|
![]()
![]() Friday, April 14, 2006
Dimana Aku Masih Bertanya
Tiga kuntum bunga api menjelma untaian makna
Dikala hujan menggertap diatap senja itu Masih mungkinkah duka lara ini menjadi tiang dalam jiwa Hingga saat terjaga pada hampa digurat oleh iqbal | 4 Tanggapan Dalam Rindu
Semilir angin menjamah jiwa siang itu
kala semuanya hanyut dalam belenggu waktu pujian-pujian pertapapun juga tak cukup kembalikan kau ditepian rindu Hari ini tak ada puisi ucapku Kata-kata yang keluar hanya pujian untukmu Hingga penat dan enggan lagi berkata Sudahlah cukup dalam dada digurat oleh iqbal | 1 Tanggapan Hilang
Bulir-bulir hujan jatuh mencucup-cucup tanah
Menghantarkan keranda-keranda ketanah pekuburan Disambut lambaian kemboja yang bermekaran Satu persatu sahabat pergi Menuju pulau kasih surgawi digurat oleh iqbal | 0 Tanggapan Dalam Hening 2
Aku mengejarmu dalam hening bersama duka-duka yang lalu Aku mengejarmu dalam hening bersama penantian-penantian yang akan datang Aku mengejarmu dalam hening bersama paruh-paruh waktu yang tersisa Aku mengejarmu dalam hening... digurat oleh iqbal | 0 Tanggapan Thursday, April 13, 2006
Yang Tak Kunjung Temu
siapakah yang bercakap dengan sunyi
ketika rindu masih diujung perigi hanya putih mata menanti kemudian semuanya pergi kian hari kian kumerindunya akankah aku sampai kepadanya, hanya dengan berbekal rindu? kerinduanku menggunung-gunung kemudian terbang ke segala penjuru dimana kutemui wujud kekasihku aku pun merindu... aku pun tengah mencari kau kekasih... berdiamlah kau disana... kan kutemui kau segera seperti Adam dan Hawa di jabal Rahmah digurat oleh iqbal | 0 Tanggapan Hanyut
Hanyutkan kembali aku dalam keindahanmu
Tuangkan lagi anggur cintamu pada cawan ku Sekembalinya dari kerinduan itu Singgahlah dalam taman-tamanku tuk sekadar istirah digurat oleh iqbal | 0 Tanggapan Menggelar Gelisah 2
beribu bunga tlah kupetik
beribu kembang tlah kuraih namun kini yang tergelar hanya bayangan palsu menawarkan kedamaian semu menista hinakan kemuliaan syahdu siapakah yang menggelar gelisah berlomba seperti Rendra membacakan MEGATRUH tak nampak lagi bunga dari kelopak bibirmu semua... layu... digurat oleh iqbal | 0 Tanggapan Dimana Dirimu
Angin membaca keharuman lekuk tubuhnya
Membawa sisa aroma tadi malam Saat getir tubuhnya lekat dalam dekapanku Membawa ke dunia bentuk-bentuk Ketika rindu kian meraja Istirahlah dalam damai Hingga jalan-jalan terkuak kembali Tetaplah menjadi pelita waktu Kemudian.. Larut aku dalam sepi Menghitung nama-namamu Menafikan yang selain dirimu Menjaga kau agar selalu hadir Tapi.... Mengapa aku yang kerap menyingkir Dengan tubuh menggigil Sedang kau tetap setia sampai akhir digurat oleh iqbal | 1 Tanggapan Sunyi
dingin....
gelap.... dimana penyeru-penyurumu? akankah hadir dalam setiap hembusan nafasku? digurat oleh iqbal | 0 Tanggapan Menanti Ajal
dikala dusta angkat bicara
kebenaran hanya onggokan sampah dipersimpangan itu aku berdiri menanti ajal setiap orang hanya diam digurat oleh iqbal | 0 Tanggapan Sang Kesejatian
Lembut fajar menyapa asa pagi ini
Membangunkan dedaunan yang lelap dipangku malam Sisa hujan masih menggertap diatap Satu-satu kembali pada bumi Dalam pesona jingga aku mulai melangkah Masuki ruang-ruang penuh belukar Terjal dan bergerigi jalan harus dilalui Tapi... Mengapa hanya ada satu pohon kemboja Sementara teratai bermekaran dengan eloknya Hingga pada kelok kelima Tetap hanya ada satu pohon kemboja Menggapai-gapai dengan tubuh ringkih Tersuruk-suruk dihantam badai Dengan tubuh fana ini Bilakah kutemui sang kesejatian? digurat oleh iqbal | 0 Tanggapan Sajak Kala Resah
kadangkala semua hanya fatamorgana
disaat kita tercampak ke sudut-sudut comberan jiwa-jiwa meronta membebani hari hingga semua tak ada lagi tak perlu lagi kobar api aku hanya butuh mentari digurat oleh iqbal | 0 Tanggapan Gelung Warna
Dalam gelung warna kelabu
Kau hadir menderu Menyeruak Menggebu Memacu Menanggalkan segala ragu Dalam gelung warna kelabu Kau datang tersedu Menggeliat Menggelinjang Mengharu biru Kemudian... Kau bergerak dalam sunyi Menegakkan segala yang bias Membangun asa yang tertindas digurat oleh iqbal | 0 Tanggapan Aku Tetap Tak Tahu!
apa ini yang menderap dalam senyap?
kerap menggertap, merayap sesekali hikmad kemudian pekat digurat oleh iqbal | 0 Tanggapan Aku Tak Tahu Apa?
entah sesal, entah duka semua menyeruak segala menindih lapis bertindih digurat oleh iqbal | 0 Tanggapan Rindu
tanpamu disudut waktu digurat oleh iqbal | 0 Tanggapan Menggiring Angin
Letih rasanya kumenggiring angin
Agar ia sentiasa rebah dibahumu Membelai legam kesunyian rambutmu Hingga terurai pada paruh-paruh waktu (Meja kerja, 12-April-2006, 00.01 wib) digurat oleh iqbal | 0 Tanggapan Thursday, April 06, 2006
Menggelar Gelisah
hari-haripun tercekat ditenggorokan
menggerogoti bathin yang merintih mengiris luka yang kian menganga menghadirkan senyummu pun aku tak kuasa sementara diluar sana ranting-ranting asa patah berguguran bumi tak lagi tersenyum menggelar hari langit hanya tumpahkan tangisannya yang tak kunjung reda tabir-tabir belum lagi tersingkap angan-angan pun kian menjauhi masa masih dalam persimpangan itu kau duduk tergugu berkata dalam bahasa kepalsuan tengadahkan kepala sesaat perih itu berlalu tapi kembali tersungkur ketika angin kehinaan kembali berhembus suara yang keluar hanyalah gonggongan anjing kelaparan sebab, tak ada seorang yang kan mendengar sekalipun kau kembali kerahim ibu mengapa kau tepiskan rasa yang pernah datang hanya untuk mengejar mimpi burukmu diamlah dalam sunyi hadirkan rasa itu kembali jemput ia dalam malam-malammu seperti sepasang pengantin yang akan memadu kasih biar langit cemburu hanya kau yang rasakan derita tak terperi itu digurat oleh iqbal | 2 Tanggapan Sunday, April 02, 2006
Biarlah Angin Terus Mendesau
Dihari yang penuh dengan warna ini
mungkin ada kesunyian tersendiri dalam relung jiwamu ketika hari beranjak senja keheningan terus memburu kau terus coba meraih angan dengan jari-jari kecilmu bergerak dengan langkah tertatih menyusuri segala gelombang kadang matamu nanar memandang karena yang kau temui kembali jalan berliku Biarlah angin terus mendesau bawa segala harap kesegenap penjuru jangan hentikan langkahmu dipersimpangan berjalanlah dengan pasti menuju cita-citamu Tapi.. kau tak sendiri kau tak pernah sendiri tak akan pernah sendiri Kami semua ada untukmu menemanimu dalam suka menghiburmu kala duka Biarlah angin terus mendesau biar ia kabarkan pada ribuan karang bahwa kau tak gentar gelombang Biarlah angin terus mendesau Sambut dengan segenap senyum Hingga kau jumpai pagi dengan kemilau mentari sinari pucuk-pucuk cemara digurat oleh iqbal | 0 Tanggapan Dalam Hening
Malam mencekam samudera darah...
Berlipat-lipat kehinaan menggelegar dalam kawah dusta Mengganti lima belas purnama bersamamu dengan tungku api Luapan-luapan dahaga membawaku pada fatamorgana Sementara peluh yang keluar kembali mengering diterjang panas Malam ini rembulan kembali tersaput awan Menghitam disegala penjuru Meskipun langit membiru siang tadi Kini hanya kelam tersisa Mengais-ngais keresahan dalam dada Memanggil impi jiwa yang berlarian diterpa angin timur Lembaran-lembaran kegetiranpun menggelosoh ditepian hasrat Menggapai-gapai dengan tubuh ringkih Kemudian jemari-jemari mulai menari dikehingan Hadirmu hanya isyaratkan hampa Sisa tawamu juga masih membekas ditelinga Bekas parfummu juga masih tercium Kini yang kudapati hanya siluetmu Kemudian... hari-hari penuh kebisuan meraja Mengganti resah yang kian padam Bangkitkan jiwa-jiwa yang merona Lalu tumbuh sepucuk jingga disudut qalbu Penawar rindu kepakan sayapnya Mencoba terbang lagi kelangit bebas Jumpai ribuan awan-awan Dalam hening... Hening yang mempesona... digurat oleh iqbal | 3 Tanggapan |